Awalnya, karir Dr Warsito P. Taruno sebagai peneliti dibangun di Jepang.
Di Negeri Matahari Terbit itu, reputasinya sebagai peneliti cukup
diperhitungkan. Dari tangan dinginnya, tercipta sebuah alat pembasmi
kanker otak dan kanker payudara.
SEKARING R.A., Jakarta
TAK
sedikit peneliti Indonesia yang lebih suka berkarir dan bekerja di luar
negeri ketimbang di dalam negeri. Sebab, di luar negeri lebih
menjanjikan. Tapi, itu tak berlaku bagi Warsito P. Taruno. Semula,
Warsito merupakan salah seorang peneliti Indonesia yang berkarir di
Shizuoka University, Jepang. Di kampus tersebut, pria 54 tahun itu juga
menjadi salah seorang dosen. Selama berada di Jepang, hidup Warsito
lebih dari cukup. Apalagi, pemerintah di sana sangat memperhatikan dan
menghargai para peneliti. Tapi, itu semua tak menghalangi tekad Warsito
untuk pulang kampung. Dia lantas merintis pendirian Ctech Labs (Center
for Tomography Research Laboratory) Edwar Technology yang bergerak di
bidang teknologi penemuan.
Kini Warsito dan timnya tengah
mengembangkan alat pembasmi kanker otak dan kanker payudara. Alat
tersebut berupa teknologi pemindai atau tomografi kapasitansi listrik
berbasis medan listrik statis (electrical capacitance volume
tomography/ECVT). Dengan alat tersebut, Warsito yang asli Karanganyar
itu menciptakan empat perangkat pembasmi kanker payudara dan kanker
otak. Perangkat itu terdiri atas brain activity scanner, breast activity
scanner, brain cancer electro capacitive therapy, dan breast cancer
electro capacitive therapy. Brain activity scanner dibuat Warsito sejak
Juni 2010. Alat tersebut berfungsi mempelajari aktivitas otak manusia
secara tiga dimensi. Bentuk alat tersebut mirip helm dengan puluhan
lubang connector yang dihubungkan dengan sebuah stasiun data akuisisi
yang tersambung dengan sebuah komputer.
Alat itu bisa mendeteksi
ada tidaknya sel kanker di otak. "Dengan alat itu, juga bisa dilihat
seberapa parah kanker otak yang diderita pasien," jelas Warsito.
Sementara itu, breast activity scanner diciptakan pada September lalu.
Sedikit banyak, dua alat itu memiliki kesamaan, yakni mendeteksi adanya
sel kanker di tubuh. Selain dua alat tersebut, Warsito melengkapinya
dengan membuat brain cancer electro capacitive therapy dan breast cancer
electro capacitive therapy. Dua alat itu berbasis gelombang listrik
statis dengan tenaga baterai. Dua alat tersebut terbukti dapat membunuh
sel kanker hingga tuntas hanya dalam waktu dua bulan. Warsito telah
membuktikan keampuhan alat ciptaannya kepada kakak perempuannya yang
menderita kanker payudara stadium IV. Terdorong oleh kondisi kakaknya,
Suwarni, alumnus Jurusan Teknik Kimia Shizuoka University, Jepang,
tersebut menciptakan breast cancer electro capacitive therapy yang
berbasis listrik statis.
Bentuk alat tersebut dibuat mirip dengan
penutup dada yang mengandung aliran listrik statis di bagian dalam.
Penutup dada berwarna hitam itu terhubung dengan sebuah baterai yang
bisa di-charge. "Sengaja dibuat mirip dengan penutup dada biar mudah
digunakan," papar Warsito. Warsito pun mengenakan alat temuannya itu
kepada kakaknya selama sebulan. Penutup dada tersebut harus dipakai
selama 24 jam. Pada minggu pertama, terlihat efek samping dari alat itu.
Namun, efek tersebut tidak sampai menyiksa seperti proses kemoterapi.
Hanya, keringat penderita yang menggunakan alat tersebut berlendir dan
sangat bau. Urine dan fesesnya (kotoran) pun berbau lebih busuk. Menurut
Warsito, hal tersebut menandakan bahwa sel kankernya tengah
dikeluarkan.
"Bau busuk itu berasal dari sel kanker yang sudah mati
dan dikeluarkan lewat urine, keringat, dan feses. Tapi, si penderita
tidak merasakan sakit, hanya gerah," paparnya. Temuan Warsito itu
ternyata berhasil. Dalam waktu sebulan setelah pemakaian, hasil tes
laboratorium menyatakan bahwa kakaknya negatif kanker. Sebulan kemudian,
sang kakak dinyatakan bersih dari sel kanker yang hampir merenggut
nyawa itu.
Untuk brain cancer electro capacitive therapy, warsito
mencoba hasil temuannya tersebut kepada seorang pemuda berusia 21 tahun
yang menderita penyakit kanker otak stadium lanjut. Bahan dasar yang
digunakan mirip dengan breast cancer electro capacitive therapy. Namun,
bentuknya disesuaikan dengan bentuk kepala sehingga menyerupai pelindung
kepala. Serupa dengan metode yang diterapkan kepada sang kakak, Warsito
mengenakan alat tersebut kepada pemuda itu selama sebulan pada
September lalu. Karena alat itu dipakai di kepala, pasien akan merasakan
gerah pada bagian kepala. Pada tiga hari awal pemakaian alat tersebut,
tingkat emosi pasien akan meningkat. Setelah itu, muncul gejala-gejala
keringat berlendir hingga feses yang baunya lebih nggak enak. Warsito
menceritakan, awalnya pemuda tersebut mengalami lumpuh total. Dia tidak
bisa bangun dari tempat tidur, bahkan tidak mampu menelan makanan. Sel
kanker telah menyebar di area pangkal otak penderita itu. Namun, setelah
seminggu pemakaian alat tersebut, pemuda itu sudah bisa bangun dari
tempat tidur serta menggerakkan tangan dan kaki. Setelah dua bulan
pemakaian, pemuda tersebut sudah dinyatakan sembuh total. "Dua bulan
sudah bersih. Sel kankernya sudah hilang," papar dia.
Setelah
keberhasilan dua pasien itu, Warsito menerima banyak pesanan. Bahkan,
jumlahnya mencapai ratusan. Saat pesanan membeludak, para staf Warsito
terpaksa bekerja ekstrakeras hingga larut malam. Sebab, setiap pasien
tidak bisa menggunakan alat yang sama. "Alat terapi itu harus dibuat
sesuai dengan kondisi pasien sehingga tidak sama antara satu dan yang
lain," jelasnya. Karena masih tergolong riset, harga alat terapi itu
tergolong sangat terjangkau, hanya sekitar Rp 1 juta. Saat ini alat
pembasmi kanker tersebut telah didaftarkan di Kementerian Kesehatan
untuk mendapat izin edar. "Kalau sudah ada izin, bisa segera digunakan
oleh masyarakat luas. Harga bisa berubah, tapi pastinya masih
terjangkau," ucap dia. Keberhasilan Warsito tersebut ternyata juga
menjadi perhatian dunia internasional. Salah satu di antaranya, The
University of King Abdulaziz, Saudi Arabia. Universitas yang berlokasi
di kota Jeddah itu sudah memesan breast activity scanner dan brain
activity scanner. "Dan satu lagi alat scanner untuk perminyakan yang
menggunakan sistem ECVT 128 channel," jelasnya. Sebuah rumah sakit besar
di India pun sudah memesan sejumlah alat terapi kanker payudara ciptaan
Warsito. "Ya, baru beberapa hari lalu kami melakukan clinical test di
India," imbuh dia.
Sebelum menemukan alat pembasmi kanker
payudara dan otak, Warsito sudah dikenal dunia internasional lewat
temuannya, yakni sistem ECVT. Sistem ECVT tersebut merupakan tugas akhir
Warsito ketika menjadi mahasiswa S-1 di Shizuoka University, Jepang,
pada 1991. Berdasar sistem tersebut, Badan Antariksa Amerika Serikat
(NASA) pun tertarik memakai teknologi pemindai temuan Warsito tersebut.
Selain ECVT, warsito juga merupakan penemu dari Sona CT Scanner, alat
scanner berbasis ultrasonik untuk tabung gas bertekanan tinggi. Alat
tersebut merupakan pesanan PT Citra Nusa Gemilang, pemasok tabung gas
bagi bus Transjakarta, dan juga tercatat sebagai orang yang pertama kali
menciptakan sistem tomografi empat dimensi pertama di dunia pada tahun
2007. Adapun hasil karyanya tersebut kemudian dibeli oleh institusi
tempat dirinya bekerja dulu, Ohio State University.
http://www.jpnn.com/read/2011/12/30/112676/Warsito-P.-Taruno,-Ilmuwan-Pencipta-Alat-Pembasmi-Kanker-Payudara-dan-Otak
Tidak ada komentar:
Posting Komentar